Sabtu, 17 Juni 2017

Aku Pengin Punya Android

Hari gini belum punya Android...?
Mungkin sebagian besar orang akan menganggap aneh jika tahun 2017 belum punya Android. Bagaimana tidak aneh, Android, notebene-nya menjadi Operating System Smartphone terbesar, yang di dalamnya terdapat fitur-fitur canggih sebagai alat komunikasi tidak dimiliki oleh orang yang hidup di jaman modern. Bagaimana dia bisa mendapatkan informasi...?

Bagi saya yang belum mempunya Android akan pasrah jika dianggap aneh dan mencoba menerima serta menikmatinya dengan ikhlas. Dramatis sekaleee...

Teringat kisah Shifa, anak pertamaku, yang mencoba meminjam Android milik saudaranya. Kemudian dijawab dengan halus, "Nanti, ya... Nunggu sebentar". Diapun menunggu beberapa saat dengan ekspresif (memelas) sambil melihat saudaranya yang lincah dan asyik memainkan jari-jemarinya di pada lapisan touch screen Android. Atau Afsheen, anak kedua, yang juga sedang mengantri nunggu giliran dapat pinjaman Android dari temannya. Saat gilirannya tiba, eh... malah diminta si pemiliknya sambil berucap, "sana, owh... minta dibeliin ayahmu...".

Jika anak anda diperlakukan seperti itu, bagaimana rasanya...? Sedih, kan...?
Atau jika anda mengetahui saudaranya mendapat perlakuan seperti itu, apa respon anda...? Marah, santai, atau emang gue pikirin...? He...66X.

Saat mengetahuinya langsung, saya orang tuanya, merasa ada sesuatu yang keras dan secara paksa masuk ke dalam tubuh hingga akhirnya menyakiti sekujur tubuhku (lebay...). Pada awalnya memang tidak bisa menerima kenyataan itu, bahkan sempat hampir terucap, "hape karo Ndasmu be bisa tak tuku... (HP dan kepalamu saja bisa saya beli). Ups, radikal sekali, kan...? Tapi, Alhamdulillah, saya bisa menahan dan sedikit bersabar untuk mersponnya.

Kalau dipikir (agak sadar) sebenernya yang kejam bukan saudara atau teman anak-anakku, tapi justru orang tuanya. Lha wong... Android itu bisa didapatkan dengan mudah sekali dan harganya juga murah (bahkan kalau nggak mapu kontan, bisa dibayar kridit -- pengalaman sering didatengi sales), ko nggak dibeliin...? Sungguh terlalu...
Jaman sekarang, tukang becak saja pake Android dan anak-anaknya bisa selfie dengan gaya lebih profesional dari model (maaf, jangan tersinggung, ya... He...66X), ko kamu malah memperlakukan anakmu berbeda dengan anak-anak mereka? Sungguh teganya... teganya... teganya...

Ups, tunggu dulu... Saya memang kejam terhadap anak-anakku. Tapi, dalam konteks ini, aku juga lebih kejam terhadap diriku. Coba bayangkan (diusahakan untuk merasakan, plisss...), jika di kantor ada informasi penting, rata-rata sosialisasinya menggunakan WA. Lha, saya nggak punya, paling cuman bisa menganga... Berseragam beda, tidak menghadiri suatu acara, atau bahkan terlambat ngirim berkas.

Kalau disindir atau kena marah, paling cuma tak tanggapi dengan nyengir,  pake wajah innocent, mirip orang gila yang ngga punya dosa. Atau kalau sudah nggak kuat, akhinya ngacir... Teman-teman SMA, teman diklat, termasuk klien jasa Komukote juga sering menanyakan Pin BB ataupun No WA. Paling, akhirnya justru dijawabkan oleh orang yang lebih mengerti. Bagi saya (yang ego sentris) berprinsip, siapapun yang membutuhkan, silahkan menghubungi dengan cara yang anda bisa dan tidak harus saya yang menyesuaikan mereka. He...66X.

Meski demikian, sering terbesit untuk membeli Android bukan untuk mengikuti trend dan bukan hanya untuk memfasilitasi klien. Tapi karena dorongan kreatifitas yang kuat untuk membelinya. Chie... Namun, semakin dipikir, semakin kuat perasaan untuk menolaknya (romantis banget). Semakin banyak pertimbangan, justru semakin besar mental saya untuk menepisnya (jadi baper, nech...).

Bukan omong kosong, loh... Banyak yang datang dan curhat tentang permasalahan Android kepada saya dan akhirnya dapat solusi. Saya butuh Android untuk membuat media pembelajaran bagi peserta didik saya. Saya memerlukan Android untuk mengukur kecepatan dan  responsibility website atau blog yang saya desain guna memenuhi pesanan klien.

Jujur, saya malu tidak punya Android. Apalagi kalau pas bernasib sama seperti anak-anaku, tidak dipinjami oleh teman saat mau pinjam Androidnya. Tapi saya juga tidak mau kalah dengan mereka. Saya instal BBM di komputer dan utak-utik untuk dapat membaca WA teman yang terkoneksi Wi-fi melalui komputer. Saat kepepet untuk memberikan layanan profesional, saya gunakan simulator smartphone dengan merk dan tipe yang bervariasi secara online.

Intinya, saya lebih menikmati anak-anak saya berlari, melompat, naik ke punggung, dan berteriak membuat suasana gaduh daripada diam di depan Android tanpa interaksi nyata. Saya lebih menyukai anak-anak saya jatuh saat berlari, kotor "nyemplung" di selokan saat bermain, atau bergabung dengan air hujan ketika orang tuanya lengah, daripada otaknya didoktrin Android saat belum siap.

Bagiku, jika mereka ingin mendokumentasikan momen, ada kamera. Jika ingin menelpon ada ponsel, jika ingin browsing video dan gambar edukatif ada komputer plus modem. Jadi, job deskripsi dari masing-masing alatnya jelas dan mereka mengenalnya. Saya tidak ingin anak-anak saya hanya mengenal satu perangkat untuk semua fungsi.

Tenang, nak... Suatu saat kalian akan aku ajari trik terhebat dan terjahat dalam multimedia. Tapi, jika menurut saya mental serta atitude kalian telah siap.

Slawi Kulon:
Ditulis di Masjid Al'maruf depan Rumah Dinas Bupati Tegal dan diketik serta diposting melalui Domoro Net sambil nahan lapar. He...66X.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Silahkan menulis komentar untuk kebaikan anda, saya, dan orang lain...