Senin, 16 Desember 2013

Pencuri Mengucap Alhamdulillah...

Al kisah di “negeri antah berantah” yang kehidupannya makmur dengan pola kekeluargaan serta kerjasama yang baik. Rakyatnya aman, damai, tidak terlalu ditekan oleh peraturan-peraturan dan berpola manajemen dengan basis gotong-royong. Pemimpinnya pun berupaya mengenal bawahannya, bahkan berkenan turun ke bawah untuk berjabat tangan dan menyapa masyarakatnya.

Sampai suatu ketika, datanglah pemimpin baru dari negeri tetangga… Dia menawarkan harapan dan manajemen yang profesional untuk membentuk masyarakat serta generasi yang lebih baik. Dia mengklaim telah berhasil menerapkan strategi dan manajemennya pada kerajaan asalnya.

Pemimpin baru tesebut selalu menjadikan kerajaan asalnya sebagai model untuk menjadi dinasti yang ideal. Program awal yang dia lakukan adalah mendesain dan memperbaiki bentuk bangunan istana sekaligus membangun ruang-ruang baru. Desain yang dibuat dengan spesifikasi bahan yang berkualitas tinggi ternyata tidak bisa dipenuhi oleh anggaran yang ada saat itu. Akibatnya, rakyat harus menanggungnya dan dituntut secara halus untuk iuran. Bukan hanya itu, pegawai kerajaan dan unsur-unsur lainnya juga harus menanggungnya. Gaji sebagai hak atas kewajiban yang sudah mereka lakukan dikurangi untuk menutup hutang yang dimiliki kerajaan. Mereka terbuai ketika diberi janji dengan kata, "Saat ini kita prihatin dulu... Besok kita akan menikmati hasilnya untuk kesejahteraan kita”. Semua-pun menerima meski dengan berat hati ketika hak mereka dikurangi tanpa komentar dan protes. Hari-hari mereka jalani tugas yang sama seperti sebelum Pemimpin baru itu datang.

Lambat laun, karena tidak ada protes, Pemimpin Baru itu memberikan kewajiban yang lebih banyak namun tetap mengurangi hak yang seharusnya mereka terima. Sanksi diterapkan dengan tegas bagi yang melanggar peraturan dengan cara lebih mengurangi tunjangan uang makan. Pemimpin baru tersebut juga membawa keluarganya masuk dalam Pemerintahannya bahkan memberikan fasilitas yang lebih baik dibandingkan orang-orang pribumi yang lebih dulu mengabdi. Sebagian besar tender proyek ditangani sendiri dan keluarga serta rekanannya. Keluarganya diberi keleluasaan dalam bertindak sehingga bisa tetap mencari penghasilan selain dari pemerintahan. Sedangkan yang bukan keluarganya diberi banyak pekerjaan serta menuntut hasil yang baik sehingga tidak mempunyai kesempatan untuk mencari penghasilan tambahan di luar tugas pokoknya. Jika keluarganya yang bekerja pada pemerintahan mempunyai hajat, sebagian biaya ditanggung oleh Anggaran Pemerintah Kerajaan. Termasuk bagi keluarganya yang mendapatkan tugas ke luar, dia mengambil keputusan untuk memasukkannya dalam anggaran pemerintah. Namun bagi pegawai bukan keluarga dan koleganya, Pemimpin Baru serta jaringannya akan mempersulit pegawai tersebut memperoleh anggaran.

Sungguh ironis, ketika diterapkan semua kegiatan untuk menghemat anggaran, pemimpin tersebut justru membangun “Sub Kerajaan” untuk dikelola keluarganya. Bahkan, ditengah pemotongan gaji pegawainya, pemimpin tersebut membeli kereta kencana yang tergolong paling mewah di kerajaan tersebut.

Akibatnya, rakyat dan pegawai mulai menunjukkan sikap apatis terhadap Pemimpin Baru tersebut. Kelompok-kelompok kecil yang peduli kepada rakyat tetap berusaha untuk melakukan tugasnya yang dianggap sebagi bagian dari ibadah. Kelompok lainnya yang tidak mempunyai keberanian dan kewenangan tetap berusaha menjalankan tugas sebagai bagian dari dedikasinya, meskipun merasa berat. Kelompok lain yang muncul adalah Komunitas Borju yang bisa tetap melaksanakan tugas dengan santai dan bisa berpergian untuk berbelanja serta sekedar makan bersama. Aroma kekeluargaan yang dulu kental kini mulai menghilang. Tugas dan kegiatan lain yang seharusnya dilakasanakan bersama menjadi berkesan sebagai milik serta hanya dilakukan kelompok tertentu karena pola individual mendominasi.

Geliat rakyat mulai menunjukkan keberaniannya mengajukan aspirasi, pertanyaan, dan tuntutan. Para pegawai mulai mengajukan usul, mempertanyakan tentang pelaksanaan suatu kebijakan, dan menuntut transparansi serta akuntabilitas dari model kepemimpinan Pemimpin Baru. Keberanian mereka didasarkan pada informasi dari kerajaan asal Pemimpin Baru tersebut. Di kerajaan asalnya Pemimpin Baru tersebut juga menerapkan pola dan sistem yang sama serta diikuti alibi yang juga sama. Informasi lain juga didapatkan dari kolega yang menjadi partner kerja Pemimpin Baru dalam penanganan proyek dan tender.

Setelah mendapatkan informasi dan bukti yang cukup kuat, beberapa kelompok (terutama generasi muda) yang peduli dengan kondisi kerajaan berencana melakukan suatu tindakan berupa referendum terhadap dinasti yang berkuasa. Namun, di tengah upaya mewujudkan pergerakan tersebut, muncul ide baik lain dari generasi yang lebih bijak. Generasi tersebut meredam rakyat dan pegawai untuk tidak melakukan referendum terhadap Pemimpin Baru dengan pertimbangan kemanusiaan. Bahkan, Generasi Bijak tersebut mengajak rakyat dan pegawai untuk membantu Dinasti Pemimpin Baru tersebut meninggalkan kesan baik sebelum pensiun dan tutup usia.

Di akhir cerita, rakyat dan pegawaipun mengambil keputusan (bukan ke-putus-asa-an) untuk bersabar dan memberikan kesempatan kepada Dinasti Pemimpin Baru mereka. Beruntunglah Pemimpin Baru Tersebut karena selamat dari akibat tindakannya. Dari cerita inilah kemudian muncul kalimat, “Pencuri bisa berucap Alhamdulillah atas keberhasilannya mengambil hak orang lain”.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Silahkan menulis komentar untuk kebaikan anda, saya, dan orang lain...

Artikel Terbaru Komukote